Tampilkan postingan dengan label Entertaiment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entertaiment. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Kisah Hidup Si PRIA GENDUT 368 Kilogram

Keith Martin. (Foto : Int)
La Midung - Kisah Hidup seorang Keith Martin, yang selalu merasa di ambang kematian. Dengan bobot tubuh mencapai 368 kilogram, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Deritanya pun memuncak ketika mendapati pembesaran biji testis hingga sebesar bola bowling.

Sosoknya menjadi bahan pembicaraan di dunia. Ada yang iba. Namun, mayoritas menghujat gaya hidupnya yang buruk. Dokter bahkan memberi peringatan tegas, "Ambil saran kami atau mati!"

Mendengar kata mati, Martin mulai ngeri. "Saya mencoba untuk memperhatikan saran mereka, tetapi sebenarnya tidak ada yang memberatkan saya kecuali berita utama di seluruh dunia yang berbicara tentang berat badan saya,” ujarnya, dikutip Daily Mail.

Jika nafsu makan memuncak, Martin bisa menghabiskan sebungkus daging asap, enam sosis, enam telur, roti panggang berukuran besar, sandwich, dan kacang-kacangan saat makan siang. Malamnya, ia biasa melahap dua loyang pizza besar, dan tiga kebab ukuran jumbo.

Itu baru menu makanan utama. Di sela-sela jam makan, ia juga terbiasa ngemil biskuit, permen, kue, dan cokelat. Menyantap empat sandwich dengan ham dan daging babi asap bahkan menjadi ritualnya setiap malam sebelum tidur.

Ditambah kebiasaan minum dua liter cola dan enam gelas kopi manis, asupan kalori yang masuk ke tubuhnya mencapai 20.000 per hari. Angka ini 10 kali lipat dari kebutuhan kalori harian.

Merasa di tepi jurang bunuh diri, ia sekuat tenaga membatasi diri hanya menyantap 1.500 kalori. “Ini merupakan proses yang sulit, tapi saya berusaha untuk tetap berpegang teguh pada diet baru saya,” ujar pria setinggi 175 sentimeter ini.

Demi mengembalikan harapan hidup yang panjang, ia harus menurunkan berat badan setidaknya setengah dari angka sekarang. “Saya ingin menjadi setipis di masa muda saya, tetapi apa yang saya inginkan sebenarnya adalah duduk nyaman di kursi berukuran normal.”

Martin sudah mungkin sudah lupa rasanya duduk di kursi. Terakhir kali bisa duduk di kursi adalah tujuh tahun yang lalu. Itupun membutuhkan dua tempat duduk. “Saya juga punya detak jantung yang tidak teratur, asma berat, migrain,” ujarnya.
Read More

Senin, 25 Februari 2013

MARIO TEGUH, Mengaku Berdarah Bugis di acara ULTAH BOSOWA

Mario Teguh, Ultah Bosowa. (Foto : Int)
La Midung - Banyak yang pernah mengira, Mario Teguh adalah orang Jawa, ini karena dialeknya. Mario sebenarnya orang Bugis asal Rappang, Kabupaten Sidrap.Ia "mengklarifikasi" identitasnya itu pada Seminar Motivasi, Bersama Wujudkan Impian yang digelar Bosowa Corporation di Hotel Aryaduta, Makassar, Jumat (22/2).
Lahir dari rahim wanita Bugis bernama Sitti Maria di Rappang, Sidenreng Rappang, 5 Maret 1956. Ayahnya bernama Gozali Teguh. Mario menghabiskan masa kecilnya di Sidrap, kabupaten berjarak sekitar 170 kilometer dari Kota Makassar.

Hidup di kampung, jauh dari kota besar, keluarga sederhana, memotivasinya untuk merantau agar dapat mengubah hidupnya. Sebagai lelaki berdarah Bugis, Mario mengaku nekat merantau hanya bermodal keberanian (warani). 

"(Saya) anak kecil keturunan Bugis ini berani ke Jakarta menjadi pembicara publik didengarkan jutaan orang, keberanian nggak," tuturnya disambut aplaus meriah hadirin, termasuk sang istri, Linna Teguh saat memperkenalkan diri.

Mario bernama lengkap Sis Maryono Teguh. Sejak tahun 1975, ia menggunakan nama lainnya di KTP dan paspor, Drs Mario Teguh MBA.Dari pernikahannya dengan Linna, dikarunai putra dan putri, Audrey Teguh dan Marco Teguh. Keduanya menggunakan fam. Sis Maryono Teguh punya arti.

"Teguh ayah Saya. Sis saya ambil dari Asma'ul Husna, Al 'Aziiz, Ma itu Maret, Ono itu ada, lahir pada Maret," sebut alumnus New Trier West High, Chicago, Amerika Serikat ini. "Mario dalam bahasa Bugis itu ternyata artinya gembira," katanya.

Nama lengkapnya pula digunakan untuk mengantarkan dirinya meraih beasiswa ke Chicago di sekolah setara dengan SMA. Selama berada di Negeri Paman Sam, Mario selalu main basket, namun menjadi masalah karena dirinya kurang tinggi. Di situlah ia selalu berteriak menggunakan kata pertama pada nama lengkapnya, Sis. 

( Sumber : Tribun Timur)
Read More

Selasa, 19 Februari 2013

HARYATMOKO : Kuasa Negara atas Rambut, Part II

La Midung - Kenapa rambut gondrong dilarang?

Buku Haryatmoko. (Foto : Int)
Para pengusung anti rambut gondrong berdalih bahwa rambut gondrong merupakan budaya negatif luar yang tidak selaras dengan apa yang mereka sebut dengan kepribadian bangsa. Bahkan, rambut gondrong dicitrakan sebagai para perusak, kriminal, gaya hidup bebas, perusuh, urakan, dan acuh tak acuh, serta inginnya hanya kepuasan sendiri. Padahal, anak-anak muda secara ideologis oleh penguasa Orde Baru dibentuk untuk berperan sebagaimana yang telah disematkan kepada mereka, sehingga mereka harus diselamatkan, dikontrol, dan dibina, dengan model pembinaan relasi antara ‘bapak’ dan ‘anak’, di mana ‘anak’ harus patuh pada ‘orang tua’ dan tidak boleh melawan.  

Simbolisasi rambut gondrong oleh kalangan orang-orang tua sendiri tidak lepas dari penglihatan mereka atas perkembangan yang terjadi di Barat. Seks bebas, rambut panjang, penggunaan narkotika, serta musik rock, menjadi simbol pembangkangan anak-anak muda Barat terhadap orang tuanya. Apalagi, dengan adanya stempel “Kiri Baru” alias komunis baru, atas gerakan yang mereka lakukan, hal itu semakin menambah kecemasan orang-orang tua di Indonesia terhadap perkembangan tingkah laku anak-anaknya. Komunis di era Orde Baru memang menjadi target utama untuk dihabisi.  

Gaya hidup rambut gondrong tumbuh di Barat yang bersemi secara cepat di negeri ini sejak dikeluarkannya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) No. 1/1967 yang menjadi simbol telah dilakukannya kebijakan pintu terbuka yang memudahkan modal asing masuk ke Indonesia. Sebagai implikasi dari kebijakan itu adalah kenyataan turut masuknya budaya-budaya asing ke Indonesia. Budaya-budaya yang secara langsung diadopsi oleh anak-anak muda.  

Era 60-an di dunia Barat berkembang suatu gerakan budaya dari kalangan anak-anak muda yang dikenal sebagai youth counter-culture. Kenneth Westhues (1972: 9-10) mendefinisikan budaya ini ke dalam dua pengertian, yaitu dilihat dari kacamata ideologi dan tingkah laku. Secara ideologis, counter-culture dimengerti sebagai seperangkat kepercayaan dan nilai yang secara radikal menolak kebudayaan dominan di dalam masyarakat, dan sebagai bentuk perlawanannya mereka kemudian memilih suatu aliran (sekte) alternatif di luar nilai yang berlaku. 

Sedangkan dilihat dari segi tingkah laku, counter-culture merupakan kelompok yang secara ideologis menerima kepercayaan dan nilai yang berbeda dengan yang umum berlaku, serta secara radikal menolak bahkan cenderung keluar dari masyarakatnya.  

Buku ini merupakan terobosan penting dalam studi sejarah sosial Indonesia, berbeda dengan studi sejarah konvensional. Sang penulis mengangkat persoalan sosial yang dianggap sepele, tapi di balik itu ada persoalan-persoalan krusial terkait dengan sikap   sebuah rezim terhadap warganya, terutama anak-anak mudanya, yang terlalu berlebihan, kalau tidak malah sangat represif. Hanya soal rambut gondrong sebagai domain privat, negara harus turun tangan. Sebuah paranoid penguasa, yang sayangnya,  dilakukan terhadap warganya sendiri.*
Read More

Senin, 18 Februari 2013

HARYATMOKO : Kuasa Negara atas Rambut, Part I

Buku Haryatmoko. (Foto : Int)
La Midung - Kekuasaan dapat dipahami sebagai alat untuk menormalisasi individu-individu dalam masyarakat melalui isiplin dan norma. (Haryatmoko, 2002: 14)

Ini hanya masalah sepele, yakni soal rambut, tepatnya rambut gondrong. Tapi, bagi penguasa Orde Baru, rambut gondrong adalah masalah besar dan dianggap sebagai hal abnormal yang harus dinormalisasikan dengan cara pendisiplinan, yakni mengharuskan orang yang berambut gondrong untuk memangkasnya kalau tidak tangan-tangan penguasa yang akan melakukannya melalui berbagai razia atas orang gondrong! Norma-norma juga disematkan untuk mengabsahkan ini. Misalnya, norma yang menyebutkan bahwa budaya luar seperti rambut gondrong ini negatif, tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

Buku berjudul Dilarang Gondrong; Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an karya Aria Wiratma Yudhistira ini mengulas kronika anak-anak muda di era 70-an dalam relasinya dengan penguasa ketika itu. 

Sang penulis membagi jenis anak muda dalam buku ini menjadi dua, yakni anak-anak muda yang bersikap apatis terhadap politik atau apolitis (rambut gondrong masuk di sini). James Siegel menyebut mereka adalah anak-anak muda yang memiliki kesamaan berupa selera, aspirasi, dan gaya hidup yang ingin selalu berubah yang umumnya mengacu pada perkembangan yang terjadi di luar negeri. Jenis kedua adalah anak-anak muda yang memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan persoalan bangsanya, seperti persoalan korupsi, sistem politik, kebijakan ekonomi, dan seterusnya.

Riset ini bermula dari ketertarikan penulis pada berita-berita di media massa pada tahun 70-an, seperti Sinar Harapan, Kompas, Pos Kota, Angkatan Bersenjata, Indonesia Raya, Berita Buana, Suara Karya, Antara, Tempo, Ekspres, Midi Flambojan, Aktuil, Panji Masyarakat, dan Hai. 

Media-media ini semuanya mengulas fenomena anti rambut gondrong saat itu yang menggelikan, sekaligus mengenaskan, yang diciptakan oleh penguasa Orde Baru, dan diterapkan secara massif dalam semua lini kehidupan sebagai kebijakan nasional pemerintah tanpa kompromi dan dijalankan oleh pemerintah hingga tingkat kecamatan.

Cerita tentang rambut gondrong yang dianggap sebagai abnormal oleh penguasa Orde Baru di buku ini diawali dengan tampilnya Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dalam acara bincang-bincang malam tanggal 1 Oktober 1973 di stasiun TVRI. Pada kesempatan itu, ia mengatakan bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi onverschillig alias acuh tak acuh. Pernyataan ini bukan main-main, karena ketika tampil, sang Jenderal menggunakan pakaian lengkap dengan atribut sebagai panglima Kopkamtib, sebuah lembaga negara yang ketika itu sangat ditakuti, bahkan mendengar namanya saja sudah cukup menggetarkan.

Pernyataan tersebut sontak menjadi kontroversial, karena menjadi pembenaran dan laksana gong yang menandai puncak aksi-aksi anti rambut gondrong yang sebelumnya telah dilakukan oleh para orang tua. Berbagai razia dilakukan di berbagai kota, di jalan-jalan raya. Gelombang protes pun berdatangan dari kalangan anak-anak muda. Pada 10 Oktober 1973, delegasi Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (DM-ITB) mendatangi DPR-RI di Jakarta dengan dipimpin oleh ketuanya, Muslim Tampubolon untuk memprotes kebijakan tersebut.

Kenapa rambut gondrong dilarang?
Read More

Minggu, 17 Februari 2013

Fatin Shidiqia Lubis Ternyata Sudah Punya Pacar

Fatin Shidqia Lubis. (Foto : Int)
La Midung - Fatin Shidqia Lubis mendadak terkenal setelah X Factor Indonesia menayangkan video audisinya menyanyikan lagu milik Bruno Mars, Greenade. Suaranya yang bagus ditambah wajah cantik tentu membuat banyak pria tergoda.

Bahkan Kevin Aprilio Pun Saat mendegarkan suara Fatin Shidqia Lubis yang diakuinya merinding saat Saat Fatin menyanyi. Saat ditunjuk menjadi juri tamu di X Factor Indonesia Akan tetapi Kevin merasa bukan orang yang tepat jika disuruh memegang gadis itu.

"Merinding sih. Tapi gue kurang bisa mengelola yang jago-jago gitu. Gue lebih bisa mengelola suara yang biasa-biasa aja ketimbang suara-suara yang gila dan jago-jago gitu," katanya.

Menurutnya orang yang paling tepat mengajari Fatin agar bisa lebih bagus lagi dalam bernyanyi adalah Ahmad Dhani, 

"Misalnya gue disuruh produserin Fatin, ya gue nggak bisa. Mungkin Dhani lebih bisa," tandasnya.

Tapi jika Anda berniat ‘menembak’nya sebaiknya tahan dulu. Karena Fatin ternyata sudah punya pacar. 

"Udah punya pacar, hehehe, jalan dua bulan," kata Fatin.
 
Ditemui di sekolahnya SMA 97 Jakarta di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (7/2) Fatin membuka bocoran tentang sang kekasih hati. "Kita nggak satu sekolah. Dia orang Bandung,” tuturnya.

Meskipun terpisah jarak, komunikasi dan dukungan sang pacar berjalan lancar. 

"Komunikasi intens lewat BBM sama sms, terus telepon. Dia dukung banget aku ikut X Factor. Dia suka kasih semangat walaupun aku lolos atau nggak," kenangnya.

Read More

Sering Diremas, PAYUDARA akan jauh dari KANKER

Love Breast Cancer. (Foto : Int)
La Midung - Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang ditakuti oleh kaum wanita, juga pria. Namun sebuah penelitian terbaru telah membawa berita baik tentang cara pencegahan kanker payudara dengan unik dan mudah.

Dikatakan bahwa dengan sering melakukan penekanan dan peremasan pada area payudara, maka bagian tubuh itu akan lebih sehat. Bahkan pertumbuhan sel kanker payudara dapat dihambat dengan kegiatan sederhana tersebut.Para peneliti mengamati fakta bahwa sel payudara akan kembali ke pola normal serta berhenti mengembangkan pertumbuhan tidak wajar sel kanker setelah dilakukan beberapa penekanan.

Dengan penemuan terbaru tersebut, sebuah harapan pada bentuk terapi pengobatan dan pencegahan kanker payudara dapat mulai dikembangkan, demikian dilansir Dailymail. Gautham Venugopalan, pimpinan peneliti dari University of California, Berkeley, AS, menegaskan:

“Bertahun-tahun orang paham bahwa melakukan penekanan pada tubuh dapat memberi pengaruh pada perkembangannya. Misalnya saat kita mengangkat beban, maka otot akan terlatih dan bertambah besar.”

Demikian juga terhadap pertumbuhan sel, dalam hal ini sel kanker. Jika terus ditekan, maka ia akan menghentikan pertumbuhannya dan berkembang ke arah yang lebih positif. Pada penelitian laboratorium tersebut juga dikatakan bahwa penggunaan obat-obatan anti kanker yang diberikan justru akan membuat pertumbuhan sel menjadi tidak normal kembali.

Pada penelitian laboratorium tersebut juga dikatakan bahwa penggunaan obat-obatan anti kanker yang diberikan justru akan membuat pertumbuhan sel menjadi tidak normal kembali.
Read More
Designed By Seo Blogger Templates